5 Rumus Jitu Berapa Persen Up Harga di GoFood Anti Rugi

Ini adalah pertanyaan pertama (dan paling panik) dari setiap merchant baru GoBiz: “Saya baru tahu komisi GoFood 20%. Jadi, berapa persen up harga di GoFood yang harus saya lakukan? 20%?”
Jika Anda berpikir “naikkan 20%”, SELAMAT! Anda baru saja menjamin bisnis Anda tetap rugi di setiap pesanan. Ini bukan tebakan, ini matematika.
Sebagai ahli digitalisasi bisnis, saya melihat kesalahan ini setiap hari. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah gagal paham perbedaan antara “markup” dan “gross-up”. Faktanya, rumus markup harga GoFood yang Anda cari jauh lebih kompleks daripada sekadar “tambah 20%”.
Oleh karena itu, mari kita bedah tuntas. Lupakan semua “kira-kira” Anda. Artikel ini akan memberi Anda 5 rumus dan strategi, dari yang paling dasar (tapi benar) hingga yang paling jenius (dan paling profit) untuk cara hitung harga jual GoFood. Siapkan kalkulator!
Mitos #1: “Markup 20% = Aman” (Ini Matematika yang Salah)
Mari kita hancurkan mitos ini terlebih dahulu. Ini adalah logika yang salah kaprah:
LOGIKA SALAH:
- Harga Nasi Goreng Offline (Modal+Profit): Rp 20.000
- Komisi GoFood: 20%
- Logika Anda: Saya naikkan 20%. Rp 20.000 + (20% x Rp 20.000) = Rp 24.000.
- Harga Jual GoFood Anda: Rp 24.000
Sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi saat pesanan masuk:
KENYATAAN PAHIT:
- Harga Jual di Aplikasi: Rp 24.000
- Komisi GoFood (20% dari HARGA JUAL): 20% x Rp 24.000 = Rp 4.800
- Uang yang Anda Terima: Rp 24.000 – Rp 4.800 = Rp 19.200
Harga *offline* Anda seharusnya Rp 20.000. Uang yang Anda terima hanya Rp 19.200. Anda baru saja RUGI Rp 800 per porsi, padahal Anda sudah “merasa” menaikkan harga. Jika Anda menjual 100 porsi sehari, Anda kehilangan Rp 80.000, atau Rp 2.4 Juta per bulan!
Biaya Sebenarnya: 20% + PPN 11% = 22.2%
Tunggu, ini bahkan lebih buruk. Potongan GoFood terbaru sebenarnya bukan 20%.
Komisi 20% adalah “Biaya Jasa” yang Gojek berikan ke Anda. Dan di Indonesia, Jasa kena PPN 11%. PPN ini dikenakan di atas nilai komisi. Akibatnya, perhitungan sebenarnya adalah:
- Komisi: 20%
- PPN atas Komisi: 11% x 20% = 2.2%
- Total Potongan Efektif: 22.2%
Jika kita hitung ulang kerugian Anda tadi dengan angka 22.2%:
- Harga Jual: Rp 24.000
- Potongan GoBiz (22.2% dari Rp 24.000): Rp 5.328
- Uang yang Anda Terima: Rp 24.000 – Rp 5.328 = Rp 18.672
Kerugian Anda per porsi sekarang Rp 1.328. Kebocoran Anda per bulan: Rp 3.9 Juta!
Sudah pusing? Jangan khawatir. Sekarang kita masuk ke rumus yang benar.
Rumus #1: “Gross-Up” (Cara Benar Menaikkan Harga)
Anda tidak bisa “markup” (menambah). Anda harus melakukan “gross-up” (membagi). Ini adalah rumus markup harga GoFood yang benar dan paling dasar.
Harga Jual GoFood = Harga Offline / (1 - %Komisi Efektif)
Mari kita gunakan studi kasus tadi:
- Harga Offline Anda: Rp 20.000
- % Komisi Efektif: 22.2% (atau 0.222)
- Perhitungan: Rp 20.000 / (1 – 0.222)
- Perhitungan: Rp 20.000 / 0.778
- Harga Jual GoFood (Minimum): Rp 25.706
Praktik terbaik adalah membulatkannya ke angka psikologis yang cantik: Rp 25.900.
Mari kita uji (Uji Balik):
- Harga Jual: Rp 25.900
- Potongan GoBiz (22.2%): Rp 5.750
- Uang Diterima: Rp 20.150
Hasilnya: Harga ideal offline Anda adalah Rp 20.000. Anda menerima Rp 20.150. Anda PROFIT dan semua biaya ter-cover! Ini adalah jawaban minimum untuk “berapa persen up harga di GoFood”. Jawabannya adalah sekitar 28.5% (dari Rp 20.000 ke Rp 25.700), BUKAN 20%.
Rumus #2: Metode “Pro” (Menghitung dari HPP)
Rumus #1 bagus jika Anda sudah punya harga *offline*. Tapi bagaimana jika Anda membuat menu baru dari nol? Inilah cara hitung harga jual GoFood yang digunakan para profesional.
Harga Jual GoFood = (HPP + Biaya Pack) / (1 - %Komisi - %Profit)
Mari kita praktikkan:
- Hitung Biaya Modal (HPP + Packaging)
- HPP (Bahan: Nasi, Ayam, Bumbu): Rp 10.000
- Biaya Packaging (Box, Sendok): Rp 2.500
- Total Modal: Rp 12.500
- Tentukan Target Anda
- % Komisi Efektif: 0.222 (22.2%)
- % Target Profit (misal 30%): 0.3
- Masukkan ke Rumus “Pro”
- Harga Jual = Rp 12.500 / (1 – 0.222 – 0.3)
- Harga Jual = Rp 12.500 / 0.478
- Harga Jual GoFood (Ideal): Rp 26.150
Bulatkan menjadi Rp 26.500 atau Rp 26.900. Dengan harga ini, Anda sudah *pasti* untung 30% setelah dipotong komisi 22.2%.
Peringatan Keras dari Ahli!
Rumus #2 ini adalah yang terbaik, TAPI ia punya satu kelemahan besar: Rumus ini hanya akurat jika Anda tahu persis HPP Anda. Jika “Modal” Anda masih “kira-kira”, maka harga jual Anda juga akan “kira-kira rugi”. Anda wajib mencatat setiap gram beras dan setiap siung bawang.
Jangan “kira-kira”! Hitung HPP akurat pakai buku ini.
Cek Buku Kas / Buku Stok Di SiniStrategi #3: “Smart Bundling” (Cara Paling Jenius)
Oke, secara matematika kita sudah aman. Tapi sekarang kita punya masalah baru: Psikologi Pelanggan.
Pelanggan Anda tidak bodoh. Mereka tahu harga *offline* Nasi Goreng Anda Rp 20.000. Saat mereka melihat harga di GoFood Rp 26.000 (naik 30%), mereka merasa “dirampok”. Ini menciptakan “ketidakpercayaan” (distrust).
Jadi, apa strategi menaikkan harga GoFood yang paling elegan? Jawabannya: JANGAN JUAL PRODUK YANG SAMA PERSIS.
Ciptakan “Menu Khusus Online” atau “Smart Bundling”.
- JANGAN LAKUKAN INI:
- Nasi Goreng (Offline): Rp 20.000
- Nasi Goreng (GoFood): Rp 25.900
- LAKUKAN INI:
- Nasi Goreng (Offline): Rp 20.000
- Paket GoFood Kenyang (Nasi Goreng + Telor Ceplok + Es Teh): Rp 30.000 (Hanya ada di GoFood)
Mengapa Ini Jenius?
- Tidak Bisa Dibandingkan: Pelanggan tidak bisa membandingkan harga *apple-to-apple*.
- Menyembunyikan Markup: Anda “menyembunyikan” markup Rp 5.900 di dalam Telor Ceplok + Es Teh (yang HPP-nya mungkin hanya Rp 3.000).
- Meningkatkan Nilai Persepsi: Pelanggan merasa mendapat “paket” yang lebih bernilai (value), bukan sekadar “harga yang dinaikkan”.
- Meningkatkan AOV (Average Order Value): Anda “memaksa” pelanggan belanja lebih banyak (dari Rp 20rb ke Rp 30rb), yang bagus untuk algoritma GoFood.
Strategi #4: Profit Bukan Cuma dari Markup (Fokus Efisiensi)
Harga jual hanyalah *satu* sisi dari koin profit. Sisi lainnya adalah **Biaya Operasional**. Anda tidak bisa mengontrol komisi 22.2%. Tapi, Anda 100% bisa mengontrol efisiensi dapur Anda.
Semakin cepat Anda memproses pesanan, semakin banyak orderan yang bisa Anda ambil, dan semakin baik rating performa Anda (yang memengaruhi visibilitas toko).
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah operasional yang lambat. Dapur Anda panik. Pesanan ditulis manual di kertas sobekan, salah baca *request* pedas, dan memperlambat proses *packing*.
Solusi profesional untuk ini adalah **otomatisasi**. Hilangkan proses “membaca” dan “menulis ulang”.
Hentikan tulis resi. Cetak orderan instan dari GoBiz.
Cek Printer Thermal Label Di SiniPrinter thermal terhubung langsung ke aplikasi GoBiz Anda. Begitu Anda klik “Terima Pesanan”, printer akan otomatis mencetak *struk* pesanan. Lengkap dengan semua *request* dan *add-on*. Struk ini Anda tempel di *paper bag* dan berikan ke koki. Nol kesalahan manusia. Nol “salah baca”. Ini adalah investasi operasional terbaik untuk *merchant* F&B online.
Strategi #5: Bangun “Rumah” Sendiri (Jalan Keluar dari Komisi)
Pusing dengan semua potongan ini? Itu wajar. Oleh karena itu, GoFood seharusnya menjadi “corong” Anda, bukan satu-satunya sumber pendapatan. Gunakan GoFood untuk “mencari” pelanggan baru, tapi bangun “rumah” Anda sendiri di mana tidak ada komisi 22.2%.
Aset digital paling dasar, gratis, dan paling kuat adalah Google Business Profile. Pastikan pelanggan bisa menemukan Anda di Google Maps dan memesan langsung (misal via WA). Jangan gantungkan 100% nasib bisnis Anda pada satu platform.
Gratis! Daftar Google Bisnisku SekarangKesimpulan: Jadi, Berapa Persen Up Harga di GoFood?
Pertanyaannya salah. Jawabannya bukanlah satu angka persentase. Jawaban yang benar adalah sebuah **strategi**.
- Secara Matematis: Anda harus “gross-up” minimal 28.5% (untuk menutupi komisi 22.2%).
- Secara Strategis: Jangan “markup”. Ciptakan “Smart Bundling” (menu khusus online) agar pelanggan tidak merasa dirugikan dan Anda bisa menaikkan AOV.
Ringkasnya, jangan benci komisi. Hitung komisi itu sebagai “biaya marketing” yang sudah Anda masukkan ke dalam harga jual. Dengan rumus dan strategi yang tepat, Anda tidak akan lagi cemas. Anda akan sibuk… sambil menghitung profit.
Untuk panduan lengkap digitalisasi bisnis Anda, kami siap membantu di sini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Berapa persen markup harga GoFood yang ideal?
Hentikan pemikiran “markup”. Jangan “menaikkan” harga. Sebagai gantinya, gunakan rumus “gross-up”: Harga Jual = Harga Offline / (1 – %Total Komisi). Jika komisi total 22.2%, maka Anda harus membagi harga offline Anda dengan 0.778. Ini bukan markup 22.2%, tapi markup sekitar 28.5%.
2. Apakah harga di GoFood boleh beda dengan harga dine-in?
Boleh, dan seharusnya beda. Ini adalah praktik standar yang disebut “Channel Pricing”. Harga di channel online (GoFood) harus lebih tinggi karena ada biaya platform (komisi) yang tidak ada di channel offline (dine-in). Ini adalah praktik bisnis yang jujur dan transparan.
3. Bagaimana jika harga saya jadi terlalu mahal setelah dihitung?
Jika harga Anda menjadi tidak kompetitif setelah menggunakan rumus, maka ada 2 masalah: 1) HPP Anda terlalu tinggi. Anda harus negosiasi dengan supplier bahan baku. 2) Profit margin Anda terlalu besar. Coba turunkan target profit Anda. Atau, gunakan Strategi Bundling untuk membuatnya terasa lebih murah.
4. Berapa komisi GoFood 2026?
Komisi GoFood untuk merchant umumnya adalah 20% + PPN 11% (atas biaya komisi). Jadi, total potongan efektif yang harus Anda masukkan dalam perhitungan harga adalah 22.2% dari harga jual di aplikasi.
5. Lebih baik markup atau bundling?
Bundling. 100%. Markup harga pada produk yang identik akan membuat pelanggan merasa “dikerjai”. Smart Bundling (membuat paket khusus online) menyembunyikan kenaikan harga dan menambah nilai persepsi (value) bagi pelanggan.








