7 Fakta Apakah Harga Coret Itu Penting demi Profit Maksimal [Riset 2026]

Apakah harga coret itu penting bagi kelangsungan usaha Anda di tahun 2026 ini? Jawabannya mutlak iya, namun permainannya sudah jauh berubah dibandingkan dua atau tiga tahun lalu. Strategi ini tetap memanfaatkan bias kognitif otak manusia untuk menciptakan persepsi hemat, tetapi algoritma marketplace dan media sosial sekarang sudah dilengkapi AI (Kecerdasan Buatan) yang bisa mendeteksi “diskon palsu” dalam hitungan detik. Salah langkah sedikit saja, toko Anda bisa hilang dari pencarian.
Pernahkah Anda merasa heran melihat toko sebelah yang rasanya memberikan diskon gila-gilaan saat Live Shopping tapi tetap untung besar? Atau sebaliknya, Anda sudah capek-capek menaikkan harga lalu mencoretnya, tapi trafik toko malah terjun bebas? Jujur saja, keluhan seperti ini makin sering saya dengar di ruang konsultasi saya sepanjang awal tahun 2026 ini. Banyak pemilik usaha yang masih memakai trik lama era 2023-an: “Naikkan harga setinggi langit, lalu diskon 80%”. Padahal, konsumen sekarang sudah punya alat pelacak riwayat harga di ponsel mereka. Mari kita bedah tuntas realita pahit dan manisnya strategi ini.
Mengapa Otak Kita Lemah Terhadap Garis Merah di Atas Harga
Sebelum kita masuk ke teknis, mari kita bicara soal “sifat dasar manusia” yang tidak pernah berubah. Secara psikologis, otak pelanggan Anda itu ingin jalan pintas. Di tengah gempuran konten video pendek dan notifikasi yang tiada henti di tahun 2026, pelanggan tidak punya waktu untuk meriset harga asli sebuah barang. Di sinilah peran “harga coret” bekerja sebagai jangkar atau Anchoring Effect.
Pengalaman saya mendampingi klien menghadapi perubahan perilaku konsumen tahun ini menunjukkan satu pola menarik. Ketika Anda memasang harga Rp150.000 (tanpa coret), pelanggan akan ragu dan scrolling lagi. Namun, ketika Anda menulis ~~Rp250.000~~ lalu di sebelahnya tertulis Rp150.000 dengan label “Hemat 40%”, otak pelanggan berhenti berpikir kritis dan langsung menyimpulkan: “Ini kesempatan langka!”.
Jika kita melihat data ekonomi makro (Anda bisa memantau pergerakan daya beli masyarakat di situs resmi Badan Pusat Statistik untuk melihat tren pengeluaran), konsumen saat ini sangat sensitif terhadap nilai uang. Jadi, apakah harga coret itu penting di tengah ekonomi yang menantang ini? Sangat penting. Ia memberikan validasi instan bahwa pelanggan Anda sedang “menang” melawan inflasi. Tanpa harga pembanding (harga coret), penawaran Anda terasa hambar dan kurang menggigit.
โ ๏ธ Penting! Ingat, di 2026 ini harga coret bukan lagi sekadar pemanis visual. Itu adalah sinyal kepercayaan. Jika harga coret Anda tidak masuk akal (misal: pulpen biasa harga awal 1 juta didiskon jadi 5 ribu), sistem AI marketplace akan menandai toko Anda sebagai spam.
Pedang Bermata Dua Kapan Harga Coret Justru Menghancurkan Bisnis
Namun, saya harus memberi peringatan yang sangat keras. Mentang-mentang teknik ini ampuh, bukan berarti Anda bisa menggunakannya sembarangan seperti dulu. Saya baru saja menangani kasus sebuah jenama lokal yang akun utamanya terkena pembatasan (shadow ban) oleh platform justru karena mereka melakukan pola “Mark-Up to Mark-Down” yang agresif setiap minggu.
Inilah bahaya laten yang saya sebut Price History Transparency. Sekarang, hampir semua marketplace besar memiliki fitur atau ekstensi pihak ketiga yang menampilkan riwayat harga produk dalam 6 bulan terakhir. Jika pelanggan melihat bahwa harga coret Anda palsu (harga dinaikkan dulu baru didiskon), tamatlah riwayat reputasi toko Anda. Mereka akan merasa ditipu.
Jadi, ketika Anda bertanya kembali apakah harga coret itu penting untuk jangka panjang? Jawabannya bisa berubah menjadi “bencana” jika Anda tidak punya integritas. Terlalu sering memberikan diskon palsu akan mendevaluasi brand Anda. Produk Anda akan dicap sebagai barang “murahan” yang tidak layak dibeli di harga normal. Sekali cap itu melekat, sangat sulit untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Bahaya Hukum dan Algoritma Jangan Sampai Niat Cuan Malah Jadi Kasus
Satu hal yang jarang dibahas oleh para “influencer bisnis” di media sosial adalah aspek legalitas dan kebijakan platform terbaru. Saya sering melihat praktik nakal di mana pedagang memanipulasi harga dasar. Di tahun 2026, praktik Deceptive Pricing ini bukan hanya melanggar etika, tapi juga berhadapan langsung dengan sistem deteksi otomatis.
Di Indonesia, pengawasan terhadap transaksi digital semakin ketat. Algoritma marketplace kini mampu membandingkan harga produk Anda dengan ribuan produk serupa di pasar secara real-time. Jika harga coret (harga awal) Anda terdeteksi tidak wajar atau jauh di atas rata-rata pasar tanpa alasan jelas, produk Anda bisa di-takedown otomatis.
Oleh karena itu, apakah harga coret itu penting sampai-sampai Anda harus mengambil risiko toko Anda disuspend? Tentu tidak. Anda harus bermain cantik, etis, dan sesuai aturan main platform. Keuntungan sesaat dari menipu persepsi harga tidak sebanding dengan hilangnya aset digital (akun toko) yang sudah Anda bangun bertahun-tahun.
Strategi Ethical Discounting Cara Main Aman di Marketplace
Setelah mengetahui risikonya, lantas bagaimana solusinya? Apakah kita harus berhenti memberikan diskon? Tentu tidak. Saya selalu mengajarkan prinsip Ethical Discounting atau diskon yang beretika kepada klien saya. Prinsip ini sederhana: Jujurlah pada harga dasar, tapi cerdaslah dalam penyajian.
Di lapangan, saya sering menerapkan aturan “Masa Tenang” (Cooling-off Period). Jika Anda terpaksa menaikkan harga modal karena inflasi 2026 ini, jangan langsung mencoret harga tersebut di hari yang sama. Biarkan harga baru itu duduk manis minimal 7-14 hari sebagai “Harga Normal”. Baru setelah itu, Anda bisa membuat campaign diskon. Ini membuat algoritma marketplace membaca pergerakan harga Anda sebagai aktivitas wajar, bukan manipulasi.
Selain itu, manfaatkan momentum musiman. Apakah harga coret itu penting saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) atau Tanggal Kembar? Jawabannya: Wajib! Di momen ini, filter pertahanan konsumen sedang lemah-lemahnya. Namun, pastikan harga coret (harga awal) yang Anda tampilkan adalah harga yang pernah benar-benar Anda jual sebelumnya, bukan angka fiktif yang baru dikarang semalam. Integritas adalah mata uang paling mahal di era digital ini.
Pertanyaan Vital Sebelum Anda Mencoret Label Harga
Banyak pemula yang asal tembak angka diskon. “Ah, kasih 50% aja biar heboh,” pikir mereka. Padahal, ada ilmu psikologinya. Saya sering menggunakan Rule of 100 untuk menentukan tampilan diskon yang paling “menggigit”.
Rumusnya begini: Jika harga barang di bawah Rp100.000, gunakan Persentase (%). Jika harga barang di atas Rp100.000, gunakan Nominal (Rp).
Contoh kasus nyata di warung klien saya:
- Jual Keripik (Harga Rp10.000). Jika didiskon Rp2.000, tulisan “Diskon Rp2.000” terlihat kecil dan pelit. Tapi jika ditulis “Diskon 20%”, itu terlihat besar dan menggiurkan.
- Jual Elektronik (Harga Rp2.000.000). Jika didiskon 10%, angka “10%” terlihat biasa saja. Tapi jika ditulis “Hemat Rp200.000”, otak pembeli langsung memvisualisasikan uang dua ratus ribu yang bisa mereka pakai untuk beli bakso sekeluarga.
Jadi, ketika Anda menimbang apakah harga coret itu penting untuk produk tertentu, lihat dulu nominalnya. Salah memilih antara persen atau rupiah bisa membuat diskon Anda terlihat tidak berharga di mata konsumen.
Checklist Singkat Penerapan Harga Coret
Agar Anda tidak boncos atau rugi bandar, saya buatkan panduan teknis yang wajib Anda pegang. Jangan sampai saking asyiknya mencoret harga, Anda lupa menghitung laba bersih.
- Hitung Margin Setelah Diskon, Bukan Sebelum Kesalahan fatal pemula adalah menghitung profit dari harga normal. Padahal uang yang masuk ke kasir adalah harga setelah diskon. Pastikan harga akhir (Net Price) masih menutupi HPP (Harga Pokok Penjualan) dan biaya operasional (listrik, admin marketplace, packing).
- Cek Tampilan di Layar HP Seringkali apakah harga coret itu penting jadi tidak relevan hanya karena desainnya berantakan. Pastikan garis coret di aplikasi terlihat jelas. Jangan sampai angka harga asli tertutup total sehingga tidak terbaca, atau sebaliknya, garis coretnya terlalu tipis sampai dikira angka 1 atau 7.
- Intip Tetangga Sebelah Lakukan riset kompetitor. Jika semua pesaing menjual barang serupa di angka Rp50.000, lalu Anda membuat harga coret ~~Rp100.000~~ jadi Rp90.000, strategi Anda akan gagal total. Konsumen 2026 sangat pintar membandingkan harga. Harga coret hanya efektif jika harga akhirnya (Final Price) tetap kompetitif.
๐ข Rekomendasi Alat Pendukung:
Mengelola harga diskon itu butuh kerapian, apalagi kalau barangnya banyak. Jangan modal ingatan!
- Untuk mencetak label harga fisik dengan cepat agar terlihat profesional di rak toko:Price Labeller & Label Harga.
- Untuk mencetak struk diskon atau resi pesanan online secara praktis via HP:Printer Thermal Bluetooth.
Jadikan Diskon Senjata Bukan Bencana
Pada akhirnya, apakah harga coret itu penting? Ya, itu adalah senjata psikologis yang sangat tajam. Namun seperti pisau bermata dua, ia bisa membantu Anda memotong kue keuntungan lebih besar, atau justru melukai tangan Anda sendiri jika dimainkan sembarangan.
Di tahun 2026 ini, konsumen merindukan kejujuran. Mereka tidak keberatan membayar harga yang pantas, dan mereka akan sangat menghargai diskon yang jujur. Mulailah ubah pola pikir Anda dari “bagaimana cara menipu persepsi pembeli” menjadi “bagaimana cara memberikan nilai lebih (value) yang nyata”. Jika Anda bisa konsisten melakukan ini, percaya pada saya, toko Anda akan bertahan lama melampaui tren sesaat. Selamat mencoba dan semoga kasir Anda terus berbunyi!
FAQ Pertanyaan Umum
Apakah harga coret itu penting untuk produk baru launching? Sangat penting, tapi gunakan strategi Introductory Price. Sebutkan bahwa ini adalah “Harga Perkenalan” yang dicoret dari “Harga Normal Masa Depan”. Ini menciptakan urgensi bagi pembeli untuk mencoba produk baru Anda sebelum harganya naik.
Berapa lama sebaiknya harga coret dipasang? Jangan selamanya! Idealnya, periode diskon berlangsung 3-7 hari. Jika apakah harga coret itu penting dipertanyakan durasinya, jawabannya adalah “kelangkaan”. Jika diskon ada terus-menerus, itu bukan diskon, itu harga pasaran.
Apakah boleh menaikkan harga dulu baru didiskon? Secara teknis bisa, tapi secara etika dan regulasi 2026 sangat berisiko. Algoritma marketplace bisa mendeteksi kenaikan harga yang tidak wajar dan bisa menangguhkan (banned) produk Anda. Lebih baik main aman dengan margin wajar.


![7 Cara Agar Rating GoFood Naik Drastis Tanpa Iklan [Terbukti Ampuh]](https://duniaku.id/wp-content/uploads/2025/11/image-191-768x419.png)





